Selamat Datang DiBlogger Harris Senda :) , Jangan Lupa Follow ya :D

Minggu, 29 September 2013

Salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menahan ghaizh (marah). Ini disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 134. Dalam tafsir Imam Qurthubi dijelaskan, ghoizh itu artinya hampir mirip dengan ghadhab (marah). Namun, secara rasa bahasa, ghadhab tidaklah sama persis dengan ghaizh. Ghadhab adalah marah yang diwujudkan dengan anggota tubuh seseorang. Orang yang marah dalam pengertian ghadhab, mulutnya akan mengeluarkan kata-kata keji, kadang-kadang tangannya ikut menampar, memukul, atau membanting barang-barang yang ada di sekitarnya, sementara kakinya juga ikut bertindak. Arti yang paling tepat untuk kata ghadhab dalam bahasa Indonesia adalah murka.

Adapun ghaizh adalah marah yang terjadi pada diri seseorang, namun kemarahan itu hanya bergolak di dalam hati dan tidak mewujud pada anggota tubuhnya. Paling-paling wajahnya sedikit memerah atau matanya berkilat. Sementara tangan, kaki, dan lidahnya tidak mengeluarkan tindakan keji dan merugikan orang lain. Arti yang paling tepat untuk kata ghaizh itu adalah marah.

Diceritakan dalam banyak hadis bahwa Rasulullah SAW kalau marah tidak pernah menampakkan wujud pada diri Beliau hal-hal yang menyakiti orang lain atau merendahkan harga diri sendiri. "Pernah suatu hari beberapa orang Yahudi lewat di depan rumah Nabi. Saat itu Nabi sedang bersama Aisyah ra. Orang Yahudi itu memberikan salam dengan ucapan: "Assaamualaik!"(mati kena racunlah kamu). Nabi menjawab: "Alaikum" (Atasmu juga). Serta-merta Aisyah menjawab: "Waalaikum saam wal la'nah" (kamu semua mati kena racun dan kena laknat). Saat itu Nabi menasihati Aisyah bahwa Allah menyukai kasih sayang pada tiap sesuatu." (HR Bukhari dan Muslim).

Pada suatu hari, Maimun bin Mahran ra sedang duduk di rumahnya dan bersiap-siap untuk makan dengan para tamu. Tiba-tiba, budak wanitanya terpeleset dan wajah beliau tersiram kuah sup panas. Serta-merta beliau bangkit dan hendak memukul budaknya itu. Sang budak membaca ayat Alquran: "Orang bertakwa mampu menahan marah". Maimun menjawab, "Ya, aku menahan marahku." Kemudian, sang budak melanjutkan ayat tersebut: "Dan memaafkan kesalahan orang". Maimun menjawab, "Aku memaafkanmu karena Allah." Kemudian, budak itu menutup ayat tersebut: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik". Maka, Maimun berkata, "Aku membebaskanmu karena Allah."

Allah menegaskan, orang bertakwa itu adalah mereka yang mampu menahan marah. Sementara sekarang ini, banyak di antara manusia yang justru tidak mampu menahan kemurkaan. Dalam perjalanan ke kantor saja, di tengah kemacetan lalu lintas, mulut keluar kata-kata layaknya kebun binatang. Belum lagi tawuran yang merajalela dan sudah hampir menghinggapi seluruh lapisan masyarakat. Semua itu adalah wujud ketidakmampuan menahan murka.

Jika menahan murka yang merusak dan menyakiti orang lain saja belum mampu, bagaimana dapat menahan marah? Padahal, orang bertakwa tidak diminta menahan murka, tetapi justru diminta untuk menahan marah yang jauh lebih sulit melakukannya. Dengan demikian, tampaknya kedudukan kita masih jauh dari level orang bertakwa. Wallahu a'lam
Kemarin liqo dapat pembahasaan tentang “UKHUWAH ISLAMIYAH”. Sering kita menyebut-nyebut kata ukhuwah islamiyah, dan kita artikan sebagai persaudaraan islam. Tapi ga tau persis arti yg sebenarnya. Disini saya akan menguraikannya sesuai yg saya dapatkan dimateri liqo kemarin. Makna ukhuwah menurut Imam Hasan Al Banna: Pengertian ukhuwah islamiyah adalah keterikan hati dan jiwa antara satu sama lain yang dilandaskan akidah. Ukhuwah Islamiyah ini sangat erat hubungannya, lebih erat dari ikatan darah.
Hakikat-hakikat Ukhuwah Islamiyah:
1. Ukhuwah adalah Nikmat Allah.
Pemberian Allah yg khusus diperuntukan untuk mereka yg terpilih.
Allah berfirman “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).
2. Perumpamaan seperti tali tasbih.
Kalo kita perhatikan tasbih terbuat dari butiran2 kecil yang disatukan dalam satu tali. Seperti itulah ukhuwah, kita disatukan pada tali agama Allah agar kita menyatu tak bercerai berai.
Allah berfirman “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa” (QS. Az zukhruf: 67)
3. Merupakan arahan Rabbani.
Ukhuwah memiliki makna empati.
Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Imam Muslim).
Misalnya saja, klo kita sakit perut, maka bagian mulut yang merasakannya dan mengadu. Untuk kasus yang nyata di zaman Rasulullah seperti kaum muhajirin dan kaum Anshor. Kaum Anshor yg begitu relanya memberikan apa yg mereka punya untuk saudaranya kaum muhajirin. Begitulah kedudukan ukhuwah dimata kaum muslimin sangat menguatkan.
Allah berfirman: ”Dan Dia (Allah) yg mempersaatukan hati mereka (orang yg beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yg berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS. Al anfal : 63)
4. Cermin kekuatan Iman.
Ukhuwah diikat oleh Iman. Dengan ukhuwah, sesama mukmin akan saling menguatkan dan menjadi satu umat yg kuat.
Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yg berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al hujurat : 10).
Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah:
Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi, universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam. Sedangkan Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas pada waktu, tempat) yaitu ikatan selain ikatan aqidah. Contoh yg pertama: ikatan orang tua dan anak yaitu ketika ada salah satu diantara mereka yg pindah agama. Contoh kedua: Perkawinan yaitu adanya perceraian. Maka putuslah ikatan mereka. Contoh yg lain seperti nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi.
Hal-hal yang dapat menguatkan Ukhuwah Islamiyah:
1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai.
2. Memohon didoakan bila berpisah.
3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa.
4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim).
5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu.
7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara).
8. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya.
Hak seorang mukmin terhadap mukmin yg lainnya yaitu, “bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia mengundang/memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)”. (HR. Muslim).
Buah dari Ukhuwah Islamiyah
1. Merasakan manisnya Iman
2. Mendapatkan perlindungan di Akhirat
3. Mendapatkan tempat khusus di surga
“Sesungguhnya orang yg bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air (yang mengalir). Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yg ada dalam hati mereka, mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.” (QS. Al hijr: 45-48)
Maha benar Allah dalam segala firmanNya. Mohon maaf bila ada yg salah, semua kebaikan dan kebenaran datangnya dari Allah dan semua kehilafan dan kesalahan datangnya dari diri saya pribadi
Sinopsis
Membaca Catatan Hati disetiap Sujudku seperti menyusuri lorong-lorong keajaiban-Nya, membuat saya menangis dan bersujud lebih dalam (Ariesta Sabila, seorang istri)
Inspirasi dan semangatnya mengingatkan saya akan buku La Tahzan yang fenomenal itu (Helvy Tiana Rosa, Penulis, Dosen UNJ)
I have to say … that it is fantastic how Asma Nadia writes and touches the readers’ feeling, it is not a common “gift”..[smile]. It reminds me of one of my favorite classic writers: Jane Austen (author of the famous “Pride and Prejudice”), who had always tried to write “from her heart” and showed the very high spirit of a well-educated young woman. That is very rare… (Dr. rer. nat. Kartika Senjarini)
Bangsa Indonesia kembali dikejutkan aksi bom bunuh diri. Terbaru adalah pada Ahad, 25 September lalu, di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kapunton, Solo, Jawa Tengah. Sebagai umat Islam, kita miris melihat kondisi ini. Perdamaian yang tumbuh subur di negeri Muslim ini kembali tercabik oleh aksi bom bunuh diri. Terlebih aksi bom bunuh diri selalu dikaitkan dengan agama.

Sungguh aneh. Padahal, perdamaian merupakan salah satu ajaran pokok dalam Islam. Perintah untuk selalu berdamai tidak hanya terdapat pada ayat-ayat Alquran tetapi juga dicontohkan langsung dalam kehidupan Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat dikenal dengan kepribadian dan budi pekertinya yang baik. Banyak perjanjian yang dibuat Rasul SAW bertujuan untuk menghindari konflik dan berupaya membangun perdamaian. Mulai dari perjanjian Hudaibiyah, piagam Madinah, perjanjian dengan delegasi Najran, dan masih banyak lagi.

Dalam hubungan dengan kalangan non-Muslim, Rasulullah menuliskannya dalam 'Piagam Anugerah' yang kini tersimpan di Gereja St Catherine's Monastery, Bukit Sinai, Mesir. Surat itu diberikan kepada seorang delegasi Kristen yang mengunjungi Nabi SAW pada 628 Masehi di Madinah.

"Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai perjanjian bagi siapa pun yang menganut kekristenan, jauh dan dekat, bahwa kami mendukung mereka. Sesungguhnya saya, para pelayan, para penolong, dan para pengikut saya membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah penduduk saya; dan karena Allah! Saya bertahan melawan apa pun yang tidak menyenangkan mereka.

Tidak ada paksaan yang dapat dikenakan pada mereka. Sekalipun oleh para hakim mereka, maka akan dikeluarkan dari pekerjaan mereka maupun dari para biarawan-biarawan mereka, dari biara mereka. Tidak ada yang boleh menghancurkan rumah ibadah mereka, atau merusaknya, atau membawa apa pun daripadanya ke rumah-rumah umat Islam.

Jika ada yang memgambil hal-hal tersebut maka ia akan merusak perjanjian Allah dan tidak menaati Rasul-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan mendapatkan piagam keamanan melawan apa pun yang mereka benci.

Tidak ada yang memaksa mereka untuk bepergian atau mengharuskan mereka untuk berperang. Umat Islam wajib bertempur untuk mereka. Jika ada perempuan Kristen menikahi pria Muslim, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan perempuan itu. Dia tidak dapat dilarang untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa.

Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang memperbaiki dan menjaga perjanjian-perjanjian sakral mereka. Tidak ada dari antara bangsa (Muslim) yang boleh tidak mematuhi perjanjian ini hingga Hari Akhir."

Karena itu, sudah sepantasnya kita hidup berdampingan dan saling menghormati antarsesama anggota masyarakat guna memperkuat tali persaudaraan sesama anak bangsa, agar terwujud masyarakat yang ideal, yakni aman, makmur, dan sentosa. Inilah masyarakat yang didambakan, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negara yang baik dan senantiasa mendapat ampunan dari Allah SWT)
Buku ini dibuka dengan tulisan dari Asma Nadia yang berjudul Catatan Doa Seorang Istri. Tulisan pertama ini berisi tentang seorang istri yang tetap sabar dan setia walau suaminya selingkuh dengan wanita lain dan berakhir bahagia karena akhirnya suaminya bertaubat. Sang Istri yakin bahwa Allah mungkin tak selalu memberi yang kita inginkan, tapi Dia selalu menyediakan yang kita butuhkan.
Selain itu, ada kisah menarik lainnya mengenai bisa pergi ke tanah suci hanya dalam kurun waktu 13 bulan sejak menabung pertama.
“ Jangan memaksa kehendak, tetapi menunjukkan keinginan yang kuat itu penting. Menabunglah! Ida akan lihat hasilnya di luar perhitungan. Percaya itu. Jangan hitung rezeki ALLAH dengan kalkulator manusia, ALLAH punya kalkulator yang jauh lebih canggih. “ Subhanallah!
Tulisan favorit saya di buku ini berjudul Doa Sang Pendaki yang ditulis oleh Aeron Tomino (adik Asma Nadia) yang isinya mengenai 4 ABG SMA yang mendaki Gunung Ciremai yang terkenal angker. Nahas, ketika turun gunung, keempat senter yang mereka bawa tidak bisa menyala padahal cuaca tak bersahabat, hujan deras, petir dan kilat sahut-menyahut. Parah, keempat laki-laki tersebut akhirnya terjatuh ke jurang, dua hari mereka berdiam karena tubuh mereka tidak bisa digerakkan, luka di sekujur tubuh, membeku oleh dinginnya cuaca gunung ciremai, berasa hampir mendekati ajal. Alhamdulillah Allah mendatangkan bantuan lewat regu penolong sehingga akhirnya mereka tertolong.
Ujian dan cobaan adalah proses menuju jenjang yang insyaAllah lebih baik jika kita mengetahui bagaimana harus menyikapinya.
Melalui buku ini, pembaca bisa belajar mengenai amalan-amalan yang menyebabkan doa dikabulkan yakni dengan banyak ber-istighfar, sholat sunah rowatib, dhuha, taubat, hajat, tahajud, witir dan shoum. Ketika kita punya hajat, yang kita mohon jangan hajat kita sendiri, tapi juga mohon keyakinan dari sisi-NYA, mohon dapat keagunganNya, keluasan kekayaanNYA, sehingga kita tentram dan jauh dari ragu. Serta ingatlah Hadist Qudsi: Jika dia mendekat padaKu sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasata. Jika dia mendekat padaKu sehasta, maka aku akan mendekatinya selengan. Jika dia mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Setelah berikhtiar dan berdoa, maka kita harus tahu bahwa ALLAH mengabulkan doa dengan 3 cara: langsung dikabulkan, ditunda, diganti dengan limpahan rahmat yang lain. Dan jangan lupa untuk meminta dipilihkan yang terbaik oleh Allah untuk segala urusan kita.
Hal yang masih sering membuat saya risih adalah kenapa buku terbitan Asma Nadia selalu menampilkan fotonya, entahlah saya merasa kurang suka, mungkin lebih tepat jika ilustrasi saja.
Buku ini cocok untuk menemani waktu senggang kita. Happy reading!
Hasbiyallah wa ni’maal wakiil, cukuplah Allah bagiku dan Dia-lah sebaik-baik Zat yang mengurus.
Judul                                     : Catatan Hati Di Setiap Doaku
Pengarang                          : Asma Nadia
Tahun Terbit                      : 2012
Penerbit                              : Asma Nadia Publishing House
Jumlah Halaman              : 253
Kategori                               : Nonfiksi
Gunung  Sahari, Jakarta Pusat, 7 Juli 2012
JUDUL BUKU:Rembulan di Mata Ibu
PENGARANG:Asma Nadia
PENERBIT:Mizan
JUMLAH HALAMAN:180
BULAN-TAHUN TERBIT:2002/Cetakan V

Novel ini merupakan novel Asma Nadia yang diterbitkan pada tahun 2002. Novel ini telah mendapatkan penghargaan dari Adikarya IKAPI sebagai buku remaja terbaik nasional. Buku ini berisi dengan berbagai cerita-cerita pendek mengenai berbagai sisi kehidupan yang sering terjadi saat ini. Salah satu kisah yang terbaik, yang dijadikan sebagai judul novel ini yaitu “Rembulan di Mata Ibu”.
Kisah ini menceritakan mengenai kasih sayang seorang ibu yang bisa dilihat dari berbagai sisi. Kasih sayang seorang ibu yang tidak harus ditunjukkan dengan terus terang, namun bisa saja disembunyikan. Seorang ibu pastinya tidak mungkin tidak menyayangi seorang anak yang dikandungnya. Seperti dalam kisah ini, seorang anak perempuan yang bernama Diah, sebagai tokoh utama, dan ibunya(Ibu nya Diah) yang saling bersitegang setiap kali bertemu di dalam rumah. Setiap apa yang dilakukan oleh Diah, dari mulai pakaian, ucapan, dan tingkah laku, tidak pernah mendapatkan pujian dari sang ibu. Bahkan, ibunya selalu mencelanya dengan kata-kata yang melukai perasaannya. Salah satu contonya yaitu ketika Diah mengikuti kegiatan organisasi pemuda desa, ibunya selalu berkata bahwa kegiatan tersebut tidak ada gunanya. Pernah sekali, Diah berusaha menyenangkan hati ibunya, dengan cara memasakkan makanan untuknya. Namun, tak ada ungkapan terima kasih yang keluar dari mulut ibunya, yang keluar hanyalah kata-kata bahwa Diah hanya belajar dan terus belajar dan tidak pernah mencoba memasak. Hati Diah pun lelah mendengar kata-kata tajam yang menusuk. Hingga akhirnya, terdapat kesempatan bagi Diah untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Ia belajar dengan sekuat tenaga agar bisa menjauh dari ibunya. Diah pun berhasil pergi melanjutkan pendidikannya. Hingga akhirnya ia sukses menjadi penulis dan menghasilkan uang yang dikirimkan setiap bulan untuk ibunya. Suatu hari, kakaknya, yang tinggal di desa mengirimkan surat mengenai ibunya yang sakit. Diah pun tertegun. Ia akhirnya memtuskan kembali ke rumahnya dulu untuk melihat ibunya walaupun masih dalam perasaan sedikit benci terhadap ibunya. Pertemuan keduanya bergitu mengharukan, yang mana ibunya selalu mendoakan setiap langkah yang Diah lakukan. Selama ini beliau keras terhadap Diah, agar Diah siap mengahadapi sulitnya hidup, dan menjadi wanita yang tegar yang tidak akan kalah dengan kesulitan yang menghadang. Beliau juga selalu menyimpan uang yang Diah berikan. Ibunya tidak pernah memakai uang tersebut sedikitpun. Uang itu ditujukan untuk pernikahan Diah. Diah kaget, bahwa selama ini ibunya selalu memperhatikannya dan menyayanginya.
Dari kisah ini dapat diambil hikmah bahwa seorang Ibu akan menyayangi anaknya sepanjang masa. Tidak mungkin perkataan seorang ibu tidak ada maksud yang baik di dalamnya.
Selain kisah di atas, buku ini juga menceritakan banyak kisah yang akan menyentuh hati setiap orang yang membacanya dan memberikan kesadaran kepada diri setiap orang hal yang baiknya.
Dalam ayat ke-39 surat An-Nur ini, Allah menyatakan bahwa amal-amal baik orang kafir itu laksana fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. 

Sering dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati orang-orang non muslim yang berlaku baik, seperti ia sangat menghargai waktu, memiliki etos kerja tinggi, memiliki sifat dermawan kepada sesama, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun, sekali lagi melalui ayat ini seolah Allah ingin mempertegas bahwa apa yang mereka (orang kafir) lakukan itu tidak bernilai di sisi Allah. Mengapa? Karena orang kafir beramal tidak didasarkan atas iman.

Ada sebuah analogi sederhana untuk membuktikan betapa sia-sianya amal tanpa dilandasi keimanan. Jika ada seseorang bekerja untuk perusahaan A, lantas ia menginginkan gaji dari perusahaan B. Apakah perusahaan B akan memberikan gaji kepada seseorang yang tidak bekerja untuk perusahaannya? Seseorang tersebut ibarat orang kafir, ia beramal untuk Tuhan selain Allah, apakah mungkin Allah memberikan Surga-Nya untuk orang kafir?

Lantas kita pun berpikir tentang dosa orang kafir. Apakah orang kafir yang tidak sholat itu dosa? Jelas tidak, karena kekafirannya. Dosa bagi orang kafir adalah karena kesyirikannya, ia menyekutukan Allah dengan tuhan yang lain. Dan, dosa syirik adalah sebesar-besarnya dosa. Hanya dengan rahmat Allah-lah dosa syirik seorang kafir diampuni ketika ia bertaubat.

Namun kita yang seorang muslim pun harus berhati-hati dengan amal kita, karena tidak tertutup kemungkinan amal-amal kita pun laksana fatamorgana yang tak memiliki nilai di sisi Allah manakala kita beramal tetapi tidak didasari iman kepada Allah. Mari kita merefleksikan diri kita, apakah amal-amal kita telah didasarkan atas keimanan? 

1. Beramal dengan ilmu
Amal baik adalah segala sikap, tindakan, ucapan yang memiliki dasar “ilmu”. Amal yang dilandasi dengan ilmu memiliki ciri, (a) al-ashwab yakni benar yang berarti tidak menyalahi segala yang sudah ditetapkan oleh Allah, (b) al-akhlash yakni memilih amal kebaikan yang paling tidak disukai nafsu.

2. Hati yang menerima
Seseorang yang beramal didasarkan atas iman maka hatinya pun menerima setiap amal-amal yang ia lakukan.

3. Dilakukan karena yakin
Yakin akan kebenarannya dan yakin akan ketulusannya.

4. Diserta hati khudu’ (merasa rendah dan hina)
Maka tak boleh bagi seorang beriman yang ketika berdoa berkata, “Ya Allah ampunilah hamba jika Engkau ingin”

5. Ditunaikan karena cinta dan rindu kepada Allah
Amal seorang muslim merupakan manifestasi kecintaan dan kerinduan seorang hamba kepada Sang Khaliq.

6. Dirancang sebagai investasi untuk mendapatkan husnul khotimah
Seorang mukmin yang beramal dengan didasari iman, ia berharap agar mati dalam keadaan husnul khotimah, yang sulit dicapai jika tidak dirancang dengan amal-amal shaleh yang dilakukan dengan istiqomah
 
;